Bahaya di Ujung Sebatang Rokok

Seseorang masih ada di dalam ruangan itu. Lampu di meja kerja itu masih menyala dengan terang, menerangi sudut ruangan itu walaupun terlihat sayup-sayup. Seseorang sedang duduk di sana dan menatap dengan pandangan yang kosong. Sesekali dia menghela napas berat. Dia kemudian membuka laci di mejanya dan mengeluarkan sebuah amplop, di amplop tersebut tertulis nama sebuah rumah sakit di daerah Kota Semarang. Dia membuka amplop tersebut dan membaca surat yang di dalamnya. Tertulis namanya di surat itu, Victor Revananda. Setelah membaca sejenak, ia menunduk lesu. Pikirannya melayang kembali ke masa lalu. Saat ia baru saja tahu semua ini akan terjadi padanya.

Malam itu, Victor masih ada di kantor menyelesaikan beberapa pekerjaan dan laporan bersama beberapa orang temannya. Seperti biasanya, dia selalu menyempatkan waktu untuk menikmati kebiasaannya, merokok. Saat itu dia menyendiri di ruangan khusus untuk merokok, kebiasaannya merokok ini berawal sejak dia masih duduk di bangku SMA. Memang awalnya Victor hanya sekadar coba-coba saja, tetapi akhirnya dia kecanduan dan berlanjut menjadi kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan hingga saat ini. Meskipun dia sadar jika kebiasaannya merokok ini bisa mengganggu beberapa organ penting di tubuhnya, terutama paru-parunya, tapi selama ini Victor mengabaikannya karena menurutnya ia belum merasakan adanya gangguan di paru-parunya ataupun di organ tubuh lainnya. Mengingat kemungkinan gangguan yang akan menyerang tubuhnya, Victor tersenyum kecut dan alisnya berkerut samar. Ia menghela napas berat dan panjang lalu kembali mengisap sebatang rokok yang sudah disulutnya, hanya tersisa setengah bagian dari batang rokok itu. Pandangannya menerawang keluar jendela, menatap kosong langit malam dan lampu-lampu yang masih menyala di bawah sana, seolah dia sedang terlarut dalam sensasi yang ditimbulkan rokok itu saat ini. Ia kembali mengisap rokoknya dalam-dalam dan mengeluarkan dengan helaan napas panjang, ia terus melakukan hal itu berulang-ulang hingga sebatang rokok yang dinikmatinya itu habis.

Setelah dua jam berkutat dengan pikirannya dan hanyut dalam sensasi yang ditimbulkan rokok yang diisapnya tadi, Victor kembali ke ruang kerja di mana teman-temannya sedang berkumpul dan bergurau, beberapa masih minum kopi dan tiga orang temannya masih asyik menelepon dan seorang lagi masih tenggelam dalam buku yang sedang dibacanya sebelum mengerjakan laporan-laporan yang ada. Dua orang temannya datang dan menenteng dua kantong plastik di tangan mereka dengan tulisan Waroeng Steak And Shake, salah satu dari temannya itu meletakkan satu kantong plastik di atas meja dan mengatakan itu adalah makan malam mereka sebelum mengerjakan laporan-laporan yang ada. Ia melangkah ke salah satu kursi dan duduk, ia mengikuti apa saja yang sedang dibicarakan teman-temannya di meja bundar tersebut. Ia merasa masih bisa tertawa dan bergurau. Namun beberapa detik kemudian, Victor merasa pusing dan pandangannya kabur, dia merasa terjatuh dari kusinya dan merasa sesak napas bahkan hampir tidak bisa bernapas sama sekali. Dia sempat mendengar beberapa teman memanggil dan mengguncangkan tubuhnya, tapi setelah itu ia tidak tahu apa yang terjadi.

Saat Victor membuka matanya. Ia hanya melihat dinding berwarna putih di sekelilingnya, ia masih merasa pusing dan tubuhnya terasa lemas. Alat bantu pernapasan juga terpasang di hidungnya. Ia tidak bisa melakukan apapun karena keadaan tubuhnya yang terasa berat, menggerakkan tangannya saja seperti tertindih beban yang sangat berat, yang bisa ia lakukan adalah menggerakkan bola matanya menatap keadaan di sekelilingnya saja. Ia mengerjap beberapa kali untuk meyakinkan apa yang terjadi pada dirinya saat ini, apakah ini mimpi ataukah ini kenyataan.

Terdengar suara langkah kaki, kemudian pintu dibuka dan ditutup kembali, setelah itu terdengar suara langkah kaki lagi. Victor hanya bisa mendengar itu saja. Pikirannya melayang memikirkan siapa yang ada di dekatnya__atau yang berjalan mendekat ke arahnya. Sedetik kemudian suara yang tidak terasa asing memecah pikirannya. Victor mengerjap, bola matanya bergerak menatap seseorang yang di dekatnya itu.

“Victor, ini aku, apa kau bisa mendengarku? Kau bisa mengenali suaraku?” tanyanya.

Satrio. Ia berusaha mengeluarkan suaranya, “Kakak..,” ucapnya lirih__hampir tanpa suara,

Terdengar embusan nafas lega. “Baguslah kalau kau masih mengenali suaraku,” kata Satrio.

Suasana di ruangan itu menjadi hening. Tak satupun dari mereka bersuara.

Satrio menghela nafas berat. Ia mencoba memecah keheningan. “Dengar. Kau pasti sudah tahu dan kau ingat Victor, dari awal aku, papa dan mama sudah memperingatkanmu tentang akibat dari merokok, sampai kau benar-benar kecanduan dan berlanjut hingga kau seperti ini sekarang. Memangnya apa yang kau pikirkan sampai kau tidak mau berusaha berhenti dan meninggalkan kecanduanmu terhadap rokok? Kau tahu papa sudah mengajarkan kita tentang bahaya merokok sejak kita remaja, tapi kau terpengaruh pergaulanmu di SMA dan kau mulai mencoba merokok. Aku tidak akan panjang lebar menasehati dan menyadarkanmu kembali, Victor, aku hanya ingin setelah ini kau jauhi rokok dan ikuti saran dokter yang akan melakukan rehabilitasi kecanduanmu itu, sekarang kau sudah tahu bagaimana akibat rokok yang sudah kau nikmati selama sepuluh tahun ini, mungkin ini yang akan menyadarkanmu sekarang,” terang Satrio. Victor tersenyum samar dibalik alat bantu pernapasannya, “terimakasih kak,” katanya lirih dan dengan senyum tipis yang terlihat samar dari balik alat bantu pernapasannya. Satrio tersenyum dan mengelus rambut adiknya dengan sayang.

Tiga hari sudah berlalu. Keadaan Victor mulai membaik, dan dokter sudah mengizinkannya pulang. Saat itu, Satrio masih mendampingi adiknya__Victor menemui dokter. Mereka berjalan melewati lorong rumah sakit menuju ke ruang dokter yang menangani Victor, dr. Adrian. Di depan ruangan dokter Adrian sudah berdiri seorang asisten dokter yang menunggu Victor, dia tersenyum dengan ramah ke arah Victor dan Satrio, “tuan Victor, dokter Adrian sudah menunggu anda di dalam,” katanya ramah lalu menawarkan untuk mengantarkan Victor dan Satrio menemui dokter Adrian. Sesaat setelah mereka memasuki ruangan, dokter Adrian menyambut mereka dengan senyum yang ramah, menjabat tangan Victor dan Satrio secara bergantian dan mempersilakan mereka duduk. Dokter Adrian kemudian duduk kembali dan meminta asistennya untuk mengambil amplop dengan nama Victor Revananda, asisten dokter itu mengerti dan berbalik pergi, keluar dari ruangan dokter Adrian.

Sementara asistennya pergi untuk mengambil amplop yang dimaksudnya, dokter Adrian menanyakan keadaan Victor. “Saudara Victor, bagaimana keadaan anda? Sudah merasa lebih baik atau sangat baik?” tanyanya dengan senyum yang masih tersungging di wajahnya,

Victor membalas dengan senyum yang lebar, “saya sudah merasa sangat baik, dok.”

Saat itu, asisten dokter Adrian masuk dengan membawa amplop yang diminta dokter Adrian dan menyerahkan amplop tersebut kepada dokter Adrian, kemudian berbalik dan melangkah keluar dari ruangan.

Dokter Adrian membaca sekilas tulisan di bagian depan amplop tersebut sebelum kemudian membacanya. Sedetik kemudian, wajah dokter Adrian berubah menjadi masam dan menghela nafas dalam dan berat sebelum memulai percakapan dengan Victor dan Satrio yang tanpa sadar menahan napas saat melihat raut muka dokter Adrian yang berubah setelah membaca isi dari surat tersebut.

“Saudara Victor, kalau boleh saya tahu, berapa lama anda sudah memiliki kebiasaan merokok?” tanya dokter Adrian dengan nada yang terdengar serius. Victor mengerjap mendengar pertanyaan itu, “kurang lebih sudah sepuluh tahun, dok,” jawabnya dengan suara yang terbata-bata, dokter Adrian mengangkat salah satu alisnya, “saudara Victor, berdasarkan data hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan, saya mendapati bahwa dampak dari rokok yang anda nikmati tersebut benar-benar sudah membahayakan beberapa organ dalam tubuh anda, seperti yang sudah umum untuk diketahui, kandungan dan zat dalam rokok itu sangat berbahaya bagi tubuh, diantaranya yang paling berbahaya adalah zat nikotin dan tar, zat-zat tersebut bisa menyebabkan kanker paru-paru, kanker mulut, faring, laring, gangguan yang sangat berat pada lambung dan pancreas serta ginjal, dan yang paling parah bisa menyebabkan kardiovaskuler (stroke). Dan di sini hasilnya tertulis bahwa organ paru-paru bagian kiri anda sudah dalam keadaan kritis karena terdampak zat nikotin dan ada beberapa gangguan berat di bagian pancreas dan hati anda karena nikotin dan tar yang sudah meracuni organ-organ tersebut,” jelas dokter dengan panjang lebar. Mendengar penjelasan dokter berdasarkan hasil dari pemeriksaan keadaannya, Victor menatap dokter Adrian dengan mata nanar dan pandangannya berubah menjadi kosong, mulutnya ternganga dan napasnya tersengal-sengal. Satrio menatap adiknya dengan tatapan tidak percaya. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara, hanya terdengar napas yang tidak beraturan. Dokter Adrian menatap Satrio dan Victor secara bergantian, dia mencoba untuk membuka pembicaraan dan memecah keheningan dalam ruangan tersebut, “ini pasti terdengar sangat mengejutkan bagi anda, tapi, disini saya menawarkan solusi untuk memaksimalkan kondisi tubuh anda dan memulihkan sebagian kerusakan dari beberapa organ tubuh anda yang terkena dampak dari zat-zat rokok tersebut, anda juga bisa melakukan rehabilitasi untuk bisa menjauhi rokok demi kondisi tubuh anda yang lebih baik ke depannya. Jadi, bagaimana, saudara Victor?” katanya dengan nada yang hati-hati namun terdengar hangat. Victor menatap dokter Adrian dan mengerjap beberapa kali, dia mendengar tawaran tersebut, dan dia juga sangat ingin sembuh__benar-benar sembuh, “baik dok, saya akan melakukan apapun yang dokter sarankan untuk saya, saya akan menuruti apapun yang dokter akan lakukan termasuk menjalani rehabilitasi tersebut, saya bersedia untuk menjalani pengobatan dan rehabilitasi yang anda tawarkan, dokter,” kata Victor dengan lantang. Dokter Adrian dan Satrio saling melempar pandangan satu sama lain karena jawaban Victor, sedetik kemudian mereka saling melemparkan senyum kelegaan.

Kembali ke saat ini, Victor yang sedang duduk diam di meja kantornya menatap surat itu dalam-dalam. Dirinya perlahan sudah mulai pulih. Sudah tiga bulan dirinya menjalani rehabilitasi dan pengobatan seperti yang disarankan oleh dokter Adrian. Kini, Victor sudah tidak lagi menyentuh rokok, apalagi menikmatinya lagi. Dia sadar, kenikmatan yang ditimbulkan rokok memang sekejap namun menghanyutkan, tapi rokok juga akan membunuhnya secara perlahan seiring berjalannya waktu saat menikmati rokok dan zat serta kandungan yang ada di dalamnya.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s